Cara Daftar dan Aktifasi untuk Bisa Menulis di Web Smayamtala

. Jumat, 31 Oktober 2008
1 komentar

Web SMAYAMTALA ini pada awalnya hanyalah untuk/sebagai ruang informasi dan komunikasi intern bagi Anggota Organisasi [baik Pengurus/Aktif maupun Pasif] SMAYAMTALA saja yang sekiranya dengan adanya web ini jalinan maupun jaringan informasi dapat terkirim /diterima dengan baik dan jelas bagi anggota. Namun seiring dengan perkembangan dunia informasi sekarang ini yang semakin pesat maka menurut kami perlunya web ini dikelola oleh lebih dari 1/2 orang saja, yang kami khususkan kepada para anggota SMAYAMTALA dan umunya bagi yang berminat :D. Dan sehubungan masih ada para anggota yang belum paham dengan tata cara aktivasi undangan tersebut, maka kami akan menguraikannya disini, baiklah kita cukupkan sekian basa basinya :D kita kembali pada judul di atas.

Bagi kalian yang sudah di undang via email maka akan mendapatkan pesan masuk di email Anda, seperti pada gambar di bawah ini:


Silahkan Anda Klik alamat link tersebut di atas [dilingkari warna merah]. Pada tahap selanjutnya akan tampil halaman seperti di bawah ini:


Apabila kita sudah mempunyai Akun Google kita bisa langsung mengisi data diri kita dengan mengetikkan Nama Pengguna (Email) dan Kata Sandi/Password serta mencentang Ingat Saya? dan terakhir tekan/klik tombol Terima Undangan yang dilingkari dengan warna hijau di atas. Namun bila Anda belum mempunyai Akun Google langkah yang harus Anda lanjutkan adalah menekan/klik link Ciptakan account Anda sekarang [yang dilingkari warna merah]. Pada tahap pembuatan Akun Google baru akan tampil halaman seperti di bawah ini:


Silahkan Anda isi semua form di atas mulai dari Alamat Email sampai pada tombol lanjutkan. Pada proses akhir Anda harus memasukkan Sandi [yang sama seperti sandi di atas] dan menekan/klik tombol TERIMA UNDANGAN.


Setelah selesai maka akan tampil halaman seperti di bawah ini, dan Anda bisa langsung membuat Tulisan untuk Web Smayamtala dengan menekan tombol/klik ENTRI BARU atau mau meng-edit-edit dulu Profil/Photo atau Anda juga bisa membuat Blog Baru.



Selesai deeehhhh....... :) gampang banget bukan, kalo ada yang masih kurang paham bisa deh tanya langsung lewat form komentar di bawah :D.

Oia bagi Anda yang belum menerima undangan silahkan kirimkan permintaan Anda via email kesini: smayamtala_kng@yahoo.co.id dengan menyantumkan Nama Anda pada Subject Email atau cukup dengan meninggalkan Nama dan Alamat Email pada Pesan/Shoutbox di samping [kiri atas] :D.








Selengkapnya......

"Pesan BuaT Pengurus"

. Minggu, 26 Oktober 2008
2 komentar

bESAR HARAPAN DARI saya UntuK Pengurus
"Jaga Nama Baik Almamater SMAYAMTALA, jaDiLah oRang yang PeNuh Budi Pekerti, Harumkanlah nama SMAYAMTALA ini dengan Prestasi yanG beriMbas buKan hanYa untuk orGanisasi saja tapi melainKan untuK sekolah kita n' masYarakat LainYa...Hatur Nuhun..."


saraN Ini diSampaikan Oleh acew_alone Punten teu aCan Tiasa nuLIs nu araraneh/samodeLan artikel atanapi materi-2 nu berhubungan dengan kepecinta alaman... tAmbihan Kangge Akoy n' Dede anu ke enjing ngiriNG kegiatan Gladian Panji Geografi di Situ LemBang Bandung.... Semoga Sukses n' di berikan KeMudahan dalam melaksanakannya,, dan ilMunya Bisa di Aplikasikan di SMAYAMTALA KHUsusnnya dan di Kabupaten KUningan UMUmnya.... amiiinnn...!!!!@!




bilih aya Pengurus nu perYogi ka Abi tiasa ngaHubungi Via Email atawa YM! yeUh AlamaTna :
acew.alone@yahoo.co.id. tugh kaN OnLine.








Selengkapnya......

Daftar 50 Taman Nasional di Indonesia

. Sabtu, 18 Oktober 2008
0 komentar

Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990).

Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Pasal 1 butir 13 UU No. 5 Tahun 1990).

Berikut ini daftar Taman Nasional yang ada di Indonesia:
Taman Nasional di Pulau Sumatera:
1. Gunung Leuser *) **)
2. Siberut *)
3. Kerinci Seblat **)
4. Bukit Tigapuluh
5. Bukit Duabelas
6. Berbak ***)
7. Sembilang
8. Bukit Barisan Selatan **)
9. Way Kambas
10. Batang Gadis
11. Tesso Nilo

Taman Nasional di Pulau Jawa:
1. Ujung Kulon **)
2. Kepulauan Seribu
3. Gunung Halimun
4. Gunung Gede Pangrango *)
5. Karimunjawa
6. Bromo Tengger Semeru
7. Meru Betiri
8. Baluran
9. Alas Purwo
10. Gunung Merapi
11. Gunung Merbabu
12. Gunung Ciremai

Taman Nasional di Bali dan Nusa Tenggara:
1. Bali Barat
2. Gunung Rinjani
3. Komodo *) **)
4. Manupeu Tanah Daru
5. Laiwangi Wanggameti
6. Kelimutu

Taman Nasional di Pulau Kalimantan:
1. Gunung Palung
2. Danau Sentarum ***)
3. Betung Kerihun
4. Bukit Baka-Bukit Raya
5. Tanjung Puting *)
6. Kutai
7. Kayan Mentarang
8. Sebangau

Taman Nasional di Pulau Sulawesi:
1. Bunaken
2. Bogani Nani Wartabone
3. Lore Lindu *)
4. Taka Bonerate
5. Rawa Aopa Watumohai
6. Wakatobi
7. Kepulauan Togean
8. Bantimurung - Bulusaraung

Taman Nasional di Maluku dan Papua:
1. Manusela
2. Aketajawe - Lolobata
3. Teluk Cendrawasih
4. Lorentz **)
5. Wasur

Ket:
*) Cagar Biosfer
**) World Heritage Sites
***) Ramsar Sites









Selengkapnya......

Gempa itu tidak Membunuh Manusia

.
0 komentar

Gempa bahkan tsunami paling hebat sekalipun, tidak membuat ikan panik. Bahkan ada pepatah mengatakan, gempa itu tidak membunuh manusia, tapi bangunan yang buruklah yang melakukannya.

Menurut Ahli Geologi, energi gempa telah diubah menjadi energi mekanis berupa pemindahan massa batuan dari posisi sebelumnya ke posisi saat ini. Dr Irwan Meilano menghitung ukurannya sebagai 240×120km dengan besarnya slip rata-rata pada bidang gempa 6.5m. Kedalaman rata-rata batuan yang dipindahkan ini kira-kira 30 Km, atau pada episenternya. Coba saja hitung berapa berat batuan yang terpindahkan kalau saja berat jenis batuan itu 2.5 gr/cc atau kira-kira 2.5 juta kilotonne/cubic kilometer. Menurut para ahli, tenaga M 8.4 di Bengkulu ini setara 16ribu Kiloton TNT. Skala magnitude gempa itu logaritmik.

Semua energi ini sudah dipakai untuk memindahkan batuan. Tapi getarannya tetap ada. Disinilah kuncinya. Getaran yang dihasilkan gempa berbeda dengan getaran yang dihasilkan bom. Getaran gempa menghasilkan frekuensi rendah dibawah 7 Hz, dan amplitudonya cukup besar. Sehingga getaran itu tidak menyebabkan adanya perubahan tekanan yang besar ketika merambat. Sedangkan pada getaran bom, memiliki frekuensi tinggi serta menyebabkan perubahan tekanan cukup besar di air maupun di udara.

Tekanan inilah yang menyebabkan rusaknya bangunan, juga matinya ikan di laut ketika terjena bom ikan. Namun bom ikan ini tidak menghasilkan gelombang yang mampu merambat jauh. Sehingga getaran bom ikan hanya dirasakan di dekatnya, walaupun dekat tetapi sangat merusak keseluruhan ekosistem di laut. Koral serta terumbu karang hancur oleh ledakan bom ikan.

Gelombang gempa memiliki frekuensi rendah yang sangat dominan sehingga goyangannya inilah yang merusak bangunan, bukan tekanannya seperti ledakan bom. Itulah sebabnya bom itu akan membunuh manusia. Sedangkan gempa bumi ini tidak membunuh, yang membunuh adalah konstruksi bangunan yang tidak tahan goyangan.

Ada yang menyatakan "Earthquake did not kill people, the bad building did it". Jadi yang terpenting adalah konstruksinya yang harus memenuhi standar atau tahan terhadap goyangan gempa. Tentunya berbeda ketika gempa ini menyebabkan tsunami, ataupun tanah longsor.

Bahkan ketika tsunami ikan-ikan hanya terombang ambing seperti naik Kora-Kora di Ancol. Mungkin pernah mendengar adanya seorang yang sedang menyelam di kawasan Wisata Thailand yang tidak merasakan tsunami ketika sedang menyelam. Ya,memang karena dia hanya merasakan goyangannya saja. Konon dia hanya kaget ketika airnya menjadi keruh ketika naik ke permukaan.








Selengkapnya......

Backpacker Bukan Pendaki Gunung

.
0 komentar

Bukan Pendaki Gunung
Definisi backpacker seringkali tumpang tindih dengan mountainer (pendaki gunung). Keduanya memiliki kesamaan tapi juga perbedaan. Lazimnya para mountainer sekadar menyasar gunung. Titik. Nah, seorang backpacker tak sekadar mendaki gunung atau hutan, tetapi juga masuk ke desa-desa, mengunjungi suku-suku pedalaman, mengubek-ubek kota, hingga diving di laut.

Para Pembuka Jalan
Penemuan tempat-tempat wisata seringkali dilakukan oleh para backpacker. Ambil contoh pantai Gili Terawang di Lombok yang terkenal itu. Adalah para backpacker yang mula-mula menemukan tempat eksotik itu, menyiarkannya dari mulut ke mulut, lantas mendunia. Para backpacker pula yang melakukan update buku Lonely Planet Indonesia. Misalnya, memasok info tempat dan tarif penginapan teranyar atau istilahnya feed-back.

Selengkapnya......

Persahabatan, Persaudaraan, CInta, dan Alam

.
0 komentar

Persahabatan terjalin,
Persaudaraan terengkuh, bersama
Mengukir cinta kepada Alam”


Dalam mengarungi kehidupannya setiap orang memilih jalan dan tahap yang berbeda, hitam-putih tinta kehidupan tertulis dalam buku hariannya, dan akan terlukis pada dinding-dinding tak berwarna tersimpan rapi meramaikan cerita hidupnya.

Bila akhirnya semak belukar menutup jalan setapak dan menghentikan jalan kita untuk kembali pulang Dan bila akhirnya... nafas kita berhenti juga disini.... terkubur bersama ranting dan daun kering yang dingin apakah itu semua akan tinggal kenangan sia-sia?

Semoga saja tidak !

Tidak bila mayat-mayat kita kelak mampu menitip pesan bahwa gunung bukanlah tempat bermain-main, yang didaki tidak dengan persiapan, yang didaki hanya dengan modal semangat, hendak menaklukkan alam

Selengkapnya......

Pencemaran Udara

.
0 komentar

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

SUMBER
Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat.

Kegiatan Manusia

  • Transportasi
  • Industri
  • Pembangkit listrik
  • Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar)

Sumber Alami
  • Gunung berapi
  • Rawa-rawa
  • Kebakaran hutan
  • Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi

Sumber-Sumber Lain
  • Transportasi amonia
  • Kebocoran tangki klor
  • Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhir sampah
  • Uap pelarut organik

Jenis-Jenis Pencemar
  • Karbon monoksida
  • Oksida nitrogen
  • Oksida sulfur
  • CFC
  • Hidrokarbon
  • Ozon
  • Volatile Organic Compounds
  • Partikulat

DAMPAK

Dampak Kesehatan

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.

Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara (PM10, NO2, SO2) di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.

Dampak Terhadap Tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

Hujan Asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
  • Mempengaruhi kualitas air permukaan
  • Merusak tanaman
  • Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
  • Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.

Dampak dari Pemanasan Global adalah:
  • Pencairan es di kutub
  • Perubahan iklim regional dan global
  • Perubahan siklus hidup flora dan fauna

Kerusakan Lapisan Ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Selengkapnya......

Menuntut Hak Masyarakat atas Lingkungan Hidup yang Bersih dan Sehat

. Jumat, 17 Oktober 2008
0 komentar

Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi suatu penyakit kronis yang dirasa sangat sulit untuk dipulihkan. Padahal permasalahan lingkungan hidup yang selama ini terjadi di Indonesia disebabkan paradigma pembangunan yang mementingkan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan faktor lingkungan yang dianggap sebagai penghambat. Posisi tersebut dapat menyebabkan terabaikannya pertimbangan-pertimbangan lingkungan hidup di dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan. Akibatnya kualitas lingkungan makin hari semakin menurun, ditandai dengan terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di berbagai wilayah di Indonesia.

Sampai hari ini belum terlihat upaya serius dari seluruh jajaran pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut. Dalam hal kasus-kasus pencemaran tidak terlihat adanya penegakan hukum bagi perusahaan pencemar. Lemahnya pemahaman aparat penegak hukum seperti kepolisian dan pengadilan mengenai peraturan perundangan lingkungan hidup, misalnya, seringkali telah menyebabkan terjadinya tindakan kriminalisasi terhadap pegawai perusahaan,

Industri-industri besar yang dianggap memiliki kontribusi besar terhadap PAD seolah mendapatkan kekebalan dari pemerintah daerah setempat, bahkan dari DPRD-nya. Tidak adanya tindakan hukum yang tegas terhadap industri pencemar dan berlarut-larutnya penyelesaian ganti rugi kepada masyarakat korban yang merupakan pengejawantahan dari prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sebagaimana yang tercantum dalam UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menjadikan inisiatif masyarakat untuk mengarus-utamakan (mianstreaming) perlindungan lingkungan hidup dalam pembangunan ekonomi menghadapai hambatan besar. Berbagai kemudahan dan insentif diberikan kepada industri besar untuk memperluas dan meningkatkan produksinya, walaupun industri tersebut telah menimbulkan berbagai kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan.

Sejalan dengan ini, untuk terwujudnya tata kepemerintahan lingkungan hidup yang baik, maka pemenuhan hak warga negara seperti tersebut di bawah ini haruslah diprioritaskan:

  • Hak warga negara atas informasi yang benar dan akurat (Rights to information)
  • Hak warga negara untuk terlibat dalam proses kebijakan (Rights to participation)
  • Hak warga negara atas keadilan (Rights to Justice)
Beberapa prinsip yang perlu diterapkan oleh pemerintah dalam mewujudkan hak rakyat atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah:
  • Prinsip kehati-hatian dini (Precautionary Principle)
  • Prinsip persetujuan berdasarkan informasi yang menyeluruh (Free and Prior Informed Consent)
  • Prinsip pencemar membayar (Polluters Pay Principle)
  • Prinsip pendekatan yang holistik (Holistic Principle) merupakan prinsip keterpaduan siklus-hidup dalam mengambil keputusan yang terkait dengan lingkungan.


Source: Walhi.

Selengkapnya......

Tehnik Survival

.
0 komentar

Survival dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tehnik dan sikap, atau kemauan untuk hidup. Tehnik adalah adaptasi prosedur normal mountaineering ke situasi yang nyaman, dimana kemampuan berimprovisasi dan tehnik survival. Pentingnya mempunyai kemauan untuk hidup telah ditunjukkan berkali-kali. Satu contoh yang telah kita kenal adalah pada saat dua orang pemanjat yang tidak membawa peralatan yang layak etrdampar di dinding batu yang luas di cuaca yang tidak mendukung. Mereka bertahan hidup sangat baik dalam keadaan itu, mempertahankan keinginan utuk hidup, sampai tim penyelamat melakukan kontak suara.

Pada saat itu kelihatan bahwa kedua pemanjat tersebut merasakan mereka diselamatkan dan tidak perlu lagi melanjutkan usaha mereka dalam suvival. Keduanya meninggal dalam hitungan menit. Keyakinan diri dalam suatu tehnik survival mendukung keinginan untuk hidup dengan mengurangi ketakutan dan kepanikan. Tehnik survival melibatkan terutama perlindungan panas tubuh. berbagai bentuk penting dari transfer panas tubuh adalah melalui radiasi (penyinaran), konveksi dan konduksi dengan proses penguapan (embun). Kita akan mengingat secara terpisah antara pakaian dan tempat perlindungan dan bagaimana pelapisan (insulasi) mencegah penurunan panas tubuh tercapai. Berbagai diskusi akan diterangkan disini karena tema-tema ini akan lebih baik jika disertai referensi mountaineering standar. Tehnik-tehnik tersebut penting untuk tim penyelamat di gunung karena tehnik-tehnik tersebut bisa digunakan pada bivak pada saat dalam misi atau membawa korban yang sedang terluka sampai bantuan datang untuk melakukan pertolongan tingkat lanjut.

Aspek survival yang lain adalah jumlah bahan makanan yang dimakan dalam waktu yang lama, akan diabaikan disini karena sebuah tim penyelamat di gunung secara normal hanya beberapa jam dari peradaban. Gambaran survival secara keseluruhan dapat diringkas dengan lima kata: Keinginan, Kecerdasan (akal), Kehangatan, Angin dan Air.

Mekanisme Kehilangan Panas Tubuh
Secara garis besar ada empat mekanisme kehilangan panas tubuh , yaitu melalui radiasi, konveksi, konduksi dan melalui penguapan air ke udara. KIta akan membahasnya satu-satu disini

1. RADIASI
Kehilangan panas tubuh melalui radiasi secara kasar sebanding dengan perbedaan antara suhu tubuh dan keadaan sekitar. Jika tubuh terlindung dengan pakaian, perbedaan suhu antara kulit tubuh dan sentuhan dengan pakaian sedikit, dan dengan demikian radiasi kehilangan panas tubuh itu sendiri (kecuali tanpa pelindungan pakaian) dapat diabaikan. Bagaimanapun juga, radiasi dari permukaan kulit bagian luar pakaian dapat diukur tetapi berkurang dengan adanya suhu permukaan pakaian yang diperkecil denga menggunakan pelapis yang tebal. “Selimut Survival “ (lembaran logam tipis yang terbuat dari bahan Mylar) adalah salah satu alat survial yang mempunyai fungsi yang dapat kita puji yang pada dasarnya menghapuskan radiasi kehilangan panas dari seseorang dengan cara memantulkan panas ke tubuh, namun lembaran ini kebanyakan tidak mempunyai pengurangan kehilangan konduksi searah, yang dapat diukur.

2. KONVEKSI (Angin)
Kehilangan panas tubuh yang dikarenakan gerakan yang dilakukan oleh badan yang terkena udara sangat penting. Angin dingin yang berhembus kembali menunjukkan bahwa angin yang kencang menjadikan suhu dingin. Bahkan dengan pakaian yang selapis, penurunan panas tubuh akan terjadi pada saat angin sepoi-sepoi. Cara yang terbaik dalam mencegah penurunan panas tubuh adalah dengan memakai pakian yang setebal mungkin dan berlindung di shelter agar tidak terkena angin.

3. KONDUKSI
Aliran panas tubuh secara keseluruhan dengan konduksi melalui suatu bahan akan tergantung pada daya konduksi arus panas (termal bahan pakaian, ketebalan pelapis (pakaian), dan perbedaan temperatur. Prinsip penting “ KETEBALAN = KEHANGATAN” muncul karena daya konduksi termal dari sebagian besar (kering) bahan pakaian hampir sama. Pelapis-pelapis ini menciptakan panas tubuh yang besar melalui udara yang terperangkap di bahan tersebut dibandingkan melalui bahan itu sendiri; jadi ketebalan yang diberikan bahan-bahan bulu angsa, wool, atau katun setiap konduksi panas tubuh hampir sama bagusnya. Pelapis dapat dibuat lebih tebal dengan jalan menambah ketebalan, bukan dengan mengganti bahan. Pemilihan bahan tergantung pada beberapa pertimbangan, seperti kemampuan anti air ataupun asap. kualitas pelapis pada saat basah, keawetan, kesederhanaan, dan lain-lain. Sebagai contoh, pakaian yang berbahan bulu angsa memberikan kehangatan yang paling bagus berbanding dengan berat bahannya ketika kering, namun harganya mahal dan tidak berguna pada saat bahan tersebut basah. Bahan yang terbaik untuk pakaian bagian dalam adalah wool, karena kualitas pelapisnya lebih baik pada saat basah dibandingkan dengan bahan yang lain.

4. LEMBAB
Tubuh kehilangan panas badan yang banyak pada saat bekerja keras dengan mengeluarkan keringat dan penguapan air. Bahkan pada saat istirahat, tubuh secara kontinue terjadi penguapan air melalui pori-pori dan pada saat bernafas. Implikasi yang utama dari mekanisme kehilangan panas badan adalah kemungkinan pelapis menjadi basah dan kurang efektif (kerja pelapis).

5. SHELTER
Pelapis disekitar tubuh selama kita tidur biasanya menggunakan sleeping bag (kantong tidur) atau separuh kantong dan parka yang digunakan sebagai perlindungan dari tanah yang dingin dan kelembaban. Sleeping bag yang biasanya menggunakan bahan bulu angsa memberikan kehangatan yang maksimal dan berat yang minimum serta packingnya sederhana, harus terlindung dari kelembaban. Tidur dengan mengunakan pakaian yang basah dapat membuat sleeping bag menjadi basah dikarenakan kondensasi proses penguapan air yang keluar dari pakaian yang nantinya akan menempel di sleeping bag tersebut.

Pada beberapa kasus, dalam membuat shelter diperlukan tenaga yang lumayan banyak. Aktifitas ini akan membuat pakaian menjadi basah karena adanya keringat.
Shelter yang paling baik adalah shelter yang tidak memerlukan lokasi/tempat yang tidak terlalu luas, dan maing-masing individu saling mendekatkan diri agar suhu badan tetap terjaga. Pelapisan/penyekat diantara badan dan tanah atau dibawah salju sangat penting dalam survival. Mencegah hilangnya suhu badan sangat penting untuk siapapun yang duduk atau berbaring di tanah yang dingin atau salju, dan ketebalan pelapis harus ada, dengan duduk beralaskan matras, ponco atau yang lainnya yang bisa menjadi media perantara antara tubuh dan permukaan tanah.


• Manfaat Alam
Alam sering menyediakan tempat perlindungan atau dapat digunakan sebagai suatu keuntungan untuk menambah improvisasi tempat perlindungan buatan manusia yang dijelaskan dibawah ini. Tim-tim penyelamat sadar akan pola angin dan cuaca dalam skala kecil. Seringkali punggungan yang kecil, batu besar atau kayu gelondongan digunakan sebagai perlindungan dari angin. Karena radiasi yang mendinginkan dilangit pada saat malam yang cerah, maka akan lebih terasa lebih dingin berada di bwaah bintang-bintang dibandingkan berada di bwaah pohon atau batu yang mencuat karena objek-objek tersebut dapat memantulkan panas tubuh kembali.

• Lubang Pohon Atau Pohon Tumbang
Di hutan kadang kita menemukan pohon yang berlubang ataupun pohon besar yang tumbang. KIta bisa menggunakan itu sebagai shelter alam dengan menambah beberapa bagian agar kita merasa nyaman. Improvisasi dibutuhkan disini. Misalkan, kita bisa memasang ponco atau flysheet sebagai atapnya. Dan juga melengkapi dengan mencari dan menyiapkan kayu bakar untuk api pada saat malam hari selain makanan tentunya.

• Perlindungan Dengan Menggunakan Ponco (bivak)
Ponco selain berguna sebagai perlengkapan pada saat hujan, bisa juga sebagai shelter atau sering disebut dengan bivak. Ponco ada bemacam-macam. Ada ponco yang telah biasa kita lihat dan gunakan dengan berbagai macam tingkat ketebalan. Dan ada juga yang digunakan oleh militer, bentuknya lebih besar dibandingkan dengan ponco yang biasa kita gunakan.

MAKANAN DAN AIR
Air merupakan bagian yang esensi pada saat melakukan kegiatan alam bebas. Orang yang sedang melakukan pendakian akan lebih mudah terserang dehidrasi dibandingkan orang yang berada di kota. Efek dehidrasi di gunung dapat menjadi serius, dan sesegera mungkin korban yang terkena dehidrasi diberikan perawatan dan pertolongan. Selama musim panas, persediaan air bisa ditemukan di beberapa daerah pegunungan, namun tidak jarang daerah tersebut tidak mempunyai persediaan air, dan suatu keuntungan bagi ktia jika kita bisa menghemat penggunaan air mengisi air yang dapat diminum di pelples (tempat air). Pada musim dingin, kita bisa menemukan air dengan cara menggali salju yang menutupi permukaan sungai atau dengan cara menjebol lapisan es di danau. DAn untuk menjaga air agar tidak dingin, bisa kita taruh di dalam sleeping bag. Untuk musim dingin yang lama di gunung, kompor sangat penting agar bisa melarutkan salju menjadi air.

Makanan yang dimakan di gunung selama sehari perjalanan dianjurkan makanan yang gampang dicerna dan mengandung karbohidrat tinggi, zt lemak, dan tahan lama. Pendaki yang berpikiran efesien akan membawa makanan yang bisa dimakan instant tanpa harus berhenti selama perjalanan. Di perjalanan yang lebih panjang, harus dipikirkan tentang makanan yang nantinya berhubungan dengan berat makanan, kandungan yang terdapat di dalamnya, komposisi kandunagn makanan yang seharusnya dibutuhkan tubuh perhari, variasi makanan, kemudahan pencernaan makanan dan proses memasak makanan tersebut.

Beberapa Pertimbangan
Selain dari pakaian dan shelter, kehangatan dapat dipertahankan dengan cara melakukan sesuatu yang nyata seperti membuat perapian dan reflektor. Dengan berkumpulnya survivor bersama diantara perapian dan reflektor makan panas tubuh akan terjaga.

Seperti yang kita ketahui, tubuh yang secara aktif menghasilkan hawa panas di tubuh dan seseorang yang menggunakan pelapis pakaian akan membuat panas tubuhnya akan terjaga. Tubuh yang sedang istirahat akan membutuhkan lebih banyak pelapis pakaian. Ada beberapa aktifitas termasuk menggigil akan menjaga tubuh tetap hangat.

Tubuh butuh membakar makanan untuk menghasilkan panas, namun jika seseorang makan terlalu banyak makanan dia bisa merasaan kedinginan yang relatif cepat kemudian dikarenakan darah yang akan mengedarkan panas di tubuh sebaliknya akan menuju ke perut dimana proses pencernaan berlangsung. Tetapi, dengan memakan makanan dengan jumlah yang sedikit pada saat sebelum tidur akan membantu seseorang tersebut terjaga panas tubuhnya.

Selengkapnya......

Pengetahuan Dasar Navigasi Darat

.
0 komentar

Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita, dan tanah air.

Peta
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.

Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :

  • Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
  • Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
  • Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
  • Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.
  • Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
  • Legenda peta, adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.
Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.

Koordinat
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :

1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60").

2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1mm).

Analisa Peta
Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.

1. Unsur dasar peta
Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.

2. Mengenal tanda medan
Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :
  • Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan
  • Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah
  • Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah

Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.
Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:

  1. Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.
  2. Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak
  3. Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.
  4. Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian
  5. Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian
  6. Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.
  7. Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau- pulau kecil, tanjung dan teluk

Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan.

Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :
  • Badan, tempat komponen lainnya berada
  • Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.
  • Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin. Jenis kompas, yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.
Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat

Orientasi Peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya ( atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:
  1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.
  2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar
  3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya
  4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan
  5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.
Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.

Resection
Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dan dapat dibidik (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebon teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas). Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.

Langkah-langkah melakukan resection:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
  3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan ersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik).
  4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
  5. Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
  6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai. Sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.

Langkah-langkah melakukan intersection adalah:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
  3. Bidik obyek yang kita amati
  4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
  5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
  6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.
Azimuth - Back Azimuth
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:

  1. Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth sama dg azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adlh 200º- 180º = 20º
  2. Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya dama dengan 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, seiperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º
Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.


Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  • Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.
  • Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.
  • Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.
  • Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).
  • Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

Merencanakan Jalur Lintasan
Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke gunung Semeru, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.

Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan.

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan. Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.
Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.

Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.


Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.
  2. Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya
  3. Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.
  4. Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.
  5. Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.
Penampang Lintasan
Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan.. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.

Beberapa manfaat penampang lintasan :
  1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan
  2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan
  3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu

Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.

Langkah-langkah membuat penampang lintasan:
  1. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus.
  2. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.
  3. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.
  4. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.
  5. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.

Selengkapnya......

Tanggal Tanggal Penting

.
0 komentar

Di bawah ini kami tuliskan beberapa tanggal-tanggal penting yang sekiranya berhubungan dengan linkungan hidup. Daftar di bawah masih-lah belum lengkap [sedikit] dan bagi rekan yang ingin menambahkan silahkan tambah melalui form komentar.

Berikut daftar tanggalnya:

10 Januari
Hari Lingkungan Hidup Indonesia

2 Februari
Hari Lahan Basah Sedunia (konvensi Ramsar)

6 Maret
Hari Konvensi CITES (perdagangan satwa liar)

20 Maret
Hari Kehutanan Dunia

22 Maret
Hari Air Internasional

22 April
Hari Bumi / Earth Day / KTT Bumi

26 April
Hari Peringatan Tragedi Chernobyl 1999

31 Mei
Hari Tanpa Asap Rokok Sedunia

5 Juni
Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Environment Day)

23 Juni
Hari Konvensi Bonn

20 Agustus
HUT Smayamtala

16 November
Hari Konferensi Warisan Dunia

21 November
Hari Pohon

2 Desember
Hari Konvensi Ikan Paus

15 Desember
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

29 Desember
Hari Keanekaragaman Hayati


Selengkapnya......

Panjat Tebing - Hobi Unik Berusia Ribuan Tahun

.
0 komentar

Dalam sejarah, manusia selalu berusaha berinteraksi dengan alam untuk survive. Begitu juga dengan panjat tebing, yang lahir dari usaha manusia untuk bertahan hidup di alam bebas.

Mungkin kita sudah biasa atau justru ikut melakukan hobi wall climbing yang sekarang populer. Baik dalam bentuk lomba maupun sekadar mengisi waktu kosong, hobi ini memang cukup mengasyikkan. Apalagi kalau di sekolah kita disediakan papan panjat. Tidak heran kalau dari hobi ini sudah banyak teman-teman kita yang menjalani wall climbing bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah dalam tingkat yang lebih lanjut. Apalagi kalau bukan ikut dalam sebuah kejuaraan, malah menjuarainya.

Wall climbing tersebut (mungkin sudah banyak yang tahu ya) merupakan modifikasi dari hobi panjat tebing. Dari namanya sudah ketahuan kalau dua hal ini dibedakan dari medianya; yang satu berdasarkan papan buatan, sedangkan yang lain beneran tebing dari sebuah gunung atau bukit.

Nah, panjat tebing tersebut merupakan subbagian dari mountaineering (pendakian gunung), yaitu climbing yang dapat diartikan sebagai pendakian pada tebing-tebing batu atau dinding karang yang membutuhkan peralatan, teknik, dan metode-metode tertentu. Sebagai bagian dari mountaineering atau mendaki gunung, panjat tebing tidak dapat dipisahkan sejarahnya dari perjalanan panjat dan mendaki gunung.

Ribuan tahun
Kegiatan mendaki gunung ini mulai dilakukan manusia sejak berabad-abad yang lalu. Dimulai sejak manusia harus melintasi bukit-bukit atau pegunungan baik untuk melakukan peperangan atau pun ketika melakukan tuntutan hidupnya. Sejarah yang dapat diketahui dari hal ini adalah perjalanan Panglima Kerajaan Carthage, Hanibal, yang dilakukan di pegunungan Alpen di tahun 500 SM. Juga petualangan yang dilakukan Jenghis Khan yang melintasi pegunungan Karakoran dan Kaukasus untuk menaklukan Asia Tengah. Atau pendakian Mount Argulle oleh para tentara Perancis pada tahun 1442.

Dalam sejarah yang lebih maju, pendakian yang gemilang pertama kalinya dilakukan pada tahun 1786, ketika Dr Paccard berhasil mencapai puncak Mount Blanc (4087 m). Saat itu pendakian dan panjat tebing sudah menjadi hobi atau olahraga.

Dalam babak selanjutnya, puncak-puncak Alpen mulai dijajaki para penggemar olahraga alam bebas ini. Dan, memang puncak-puncak pegunungan Alpen hanya bisa dipuncaki dengan mempergunakan teknik-teknik memanjat tebing. Semakin populer ketika Sir Alfred Willis pada tahun 1854 berhasil mencapai puncak Watterhorn (di Swiss, 3708 m). Pendakian ini menjadi batu loncatan terbentuknya perkumpulan pendaki gunung tertua di dunia, British Alpine Club pada tahun 1857.

Sejak babak baru itu para pendaki semakin sering melakukan pendakian menuju puncak-puncak gunung yang lebih tinggi dan mempunyai tingkat tantangan yang lebih tinggi pula. Keberuntungan dan anugerah akhirnya datang pada Edmunt Hillary dan Tenzing Norgay dalam suatu ekspedisi. Ekspedisi yang dipimpin oleh John Hunt pada tahun 1953 tersebut berhasil memuncaki Everest, sebuah puncak yang menjadi impian para pendaki di dunia. Rangkaian-rangkaian ini merupakan titik temu bahwa panjat tebing merupakan bagian dari kegiatan mendaki gunung. Karena kegiatan memanjat tebing merupakan penunjang kegiatan mendaki gunung.

Olahraga berprestasi
Panjat tebing masuk ke Indonesia seiring dengan berkembangnya teknik mendaki. Harry Suliztiarto, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB, memperkenalkan panjat tebing pada tahun 1976. Tepatnya ketika memanjat tebing-tebing alam Citatah. Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya organisasi kegiatan alam bebas yang mengkhususkan pada kegiatan memanjat, dengan nama Skygers Amateur Rock Climbing Group.

Pada tahun 1980 kegiatan panjat tebing mulai memasuki babak baru, dimana kegiatan ini bukan lagi bersifat petualangan tetapi telah menjadi olahraga prestasi. Perkembangan ini dimulai ketika diadakannya lomba panjat tebing alam di tebing pantai Jimbaran Bali pada tahun 1987.

Nah, di tahun 1988 diperkenalkan deh dinding panjat tebing buatan (wall climbing) yang langsung diperkenalkan oleh empat pemanjat dari Perancis. Sekaligus membentuk wadah sebagai tempat menyalurkan aspirasi dan hobi serta memanajemen kegiatan panjat tebing agar berjalan dengan baik dengan nama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Pada tahun 1990, untuk pertama kalinya diadakan lomba panjat dinding buatan dengan tinggi papan lima belas meter yang menjadi awal sejarah dimulainya lomba panjat tebing buatan di Indonesia sampai saat ini.

Dasar-dasar panjat tebing
Namanya juga hobi panjat tebing, tentu saja tebing merupakan prasarana dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang harus diketahui antara lain: Bentuk tebing, bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak. Bagian-bagiannya antara lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing), dan top (bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan).

Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu pemanjatan. Bagian ini di kategorikan menjadi tiga bagian: face (permukaan tebing yang mempunyai tonjolan), slap/friction (permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan mulus tidak ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai celah/crack).

Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh, para pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya dan mengurangi tingkat kesulitannya. Untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya digunakan sistem desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada standar tingkat kesulitan yang dibuat oleh Amerika).

  • Tingkat kesulitan 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang amat mudah. Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat banyak, besar, dan mudah didapat. Sudut kemiringan tebing belum mencapai 90 derajat.
  • Tingkat kesulitan 5,9. Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak sulit karena jarak antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi masih banyak dan besar.
  • Tingkat kesulitan 5,10. Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak antar celah dan tonjolan mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki, faktor keseimbangan mulai dibutuhkan.
  • Tingkat kesulitan 5,11. Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena letak antara pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan dan kecil-kecil yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja, kedua tungkai melakukan gerakan melebar agar kaki dapat bertumpu pada tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh sangat berpengaruh, bentuk tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara tebing gantung dan atap.
  • Tingkat kesulitan 5,13-5,14. Jalur lintasan ini bervariasi antara tebing gantung dan atap dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan tangan. Pemanjat mulai melakukan gerakan gesek (friction) dan bertumpu pada ujung jari (edginh) bahkan harus mengaitkan tumit pada pijakan (hooking).

Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat kesulitan sesuai dengan penilaian masing-masing, antara lain Jerman, Perancis, UIAA (Union Internationale des Association Alpines).

Etika panjat tebing
Seperti hobi atau olahraga lain, panjat tebing juga mempunyai etika atau aturan yang disepakati oleh para pelaku hobi ini. Ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari empat hal.

Pertama, masalah teknik pembuatan jalur. Secara umum terdapat dua cara dalam pembuatan jalur, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang dilewati sama sekali baru, tanpa pengalaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Sementara itu, pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara. Pertama dengan menggunakan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting. Terlebih dahulu pada fix rope yang telah terpasang, sedangkan cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetapi melainkan dengan menggunakan top rope.

Lalu ada tentang masalah penanaman jalur. Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur tidak ada kesepakatan jelas yang mengaturnya. Di Indonesia nama jalur merupakan suatu kesepakatan dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.

Masalah keaslian jalur juga masuk dalam poin etika panjat tebing. Masalah keaslian jalur ini biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada pada jalur tersebut. Misalkan satu jalur setinggi lima belas meter dapat dipanjat hanya dengan menggunakan tiga pengaman tetap, maka selanjutnya pemanjat yang kemudian memanjat harus tetap menggunakan tiga pengaman yang pertama, tanpa ditambah atau pun dikurangi, siapapun dia, karena ini secara harfiah telah menjadi jalur resmi dan menjadi paten untuk jalur tersebut.

Dan, yang terakhir soal pengubahan bentuk permukaan tebing. Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal ini haram hukumnya untuk dilakukan meski untuk menambah kesulitan atau membuat jalur tersebut menjadi mudah. Tetapi, sebagian kecil kawasan pemanjatan menerima perubahan ini, namun hanya pada permukaan tebing yang tanpa cacat sama sekali agar kesinambungan jalur sebelumnya dan sesudah tetap terjaga.

Dengan mengetahui segi-segi dasar (baik soal teknik atau peraturan/etika), diharapkan seseorang mulai bisa mengenali hobi yang sekarang juga jadi cabang olahraga ini. Tentu saja juga diharapkan bisa menjadi salah satu aktivitas populer di kalangan anak muda.

Selengkapnya......

Pembelajaran dari Mendaki Gunung

. Kamis, 16 Oktober 2008
0 komentar

Mendaki gunung, apa enaknya, ...... apa hikmahnya

Enaknya.... menikmati pemandangan mengagumi kebesaran sang pencipta.

Dapat dibayangkan gunung yang begitu gagahnya serta menjulang dengan ketinggiannya .... yang tersebar diseluruh dunia, dengan bermacam bentuk dan ukuran menandakan betapa dahsyat, betapa hebat, betapa maha ..... Sang pencipta.

Manakala kita berada di puncak gunung, kecil kita ..... segala kesombongan, keangkuhan, keserakahan akan sirna, bagaikan debu di tiup angin .... hilang tanpa ada bekas.

Mendaki gunung memberikan hikmah yang begitu dahsyat .....

Disadari atau tidak kita dapat belajar segala hal dalam mendaki gunung, rasa persaudaran, persahabatan yang kian kental, kemandirian yang kita peroleh, tidak mudah menyerah, rasa ego yang kian menipis dalam diri, rasa syukur yang makin tebal.

Mungkin masih teringat dalam benak, disaat kita belum pernah mendaki gunung ..... emosi kita suka meluap, manakala pulang sekolah atau main dari rumah sahabat, perut lapar..... Dirumah hanya dihidangkan oleh ibunda tercinta nasi dengan lauk alakadarnya, kita marah, kita hilang selera melihat hidangan yang alakadarnya....

Setelah mengalami hal yang mengharuskan kita bertahan hidup dalam pendakian .... makan apapun yang ada dialam, ataupun makan nasi yang masih kurang matang, atau lauk yang lebih apa adanya dibanding waktu dirumah di bagi dengan kawan sependakian. Tentunya menyesal kita telah menyia-nyiakan masakan ibunda tercinta yang sudah menyiapkan makan untuk anak nya tercinta dengan penuh kasih saying, hanya karena hidangan yang apa adanya.

Masih terlalu banyak pembelajaran dari mendaki gunung.

Terimakasih Allah engkau telah berikan pelajaran berharga, dari ciptaan-Mu gunung yang begitu indah yang bukan hanya untuk dinikmati oleh mata tetapi harus dinikmati oleh hati nurani yang paling dalam serta menjaganya agar dapat memberikan pelajaran bagi generasi yang akan datang.

Selengkapnya......

Perlengkapan Pendaki Gunung

.
0 komentar

Perlengkapan Pribadi:

  1. Sepatu, ada beberapa tipe sepatu yang dirancang khusus untuk berbagai jenis perjalanan. Sepatu yang baik adalah yang dapat memberikan perlindungan bagi kaki dan cocok untuk jenis perjalanan.
  2. Pakaian, harus dapat melindungi si pemakai dari gangguan medan dan cuaca. Meliputi pakaian untuk kepala, badan, tangan dan kaki.
  3. Perlengkapan tambahan, meliputi bekal makanan / minuman, senter, pisau, perlengkapan menginap / tidur, dll.

Perlengkapan Teknik:
1. Tali (Rope)
Tali yang dipergunakan dalam pendakian / pemanjatan tebing (climbing rope) bersifat fleksible, elastis dan tahan terhadap beban yang berat. Diameter tali berkisar antara 11, 10 dan 9 mm. Kemampuan menahan beban berkisar antara 1.360 s/d 2.720 kg. Yang biasa digunakan ada dua jenis yaitu : Hawser laid dan Kernmantel.

2. Helmet / Crash Hat
Berfungsi sebagai pelindung kepala terhadap benturan benda keras.

3. Harness
Tali tubuh yang berfungsi sebagai sabuk pengaman.

4. Carabineer
Carabineer adalah cincin kait yang berbentuk oval atau D dan mempunyai gate / pintu, terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara 1.500 – 3.500 kg. Carabineer ini ada dua jenis, yaitu : screw gate (berkunci) dan snape gate (tidak berkunci).

5. Sling
Sling terbuat dari webbing tubular. Panjang sekitar 1,5 m dengan lebar 2,5 cm dibentuk menjadi sebuah loop (lingkaran) yang dihubungkan dengan simpul pita.


Perencanaan Perlengkapan Perjalanan
Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
  1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
  2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR, dll)
  3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan, dsb)
  4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
  5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya tidak melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.

Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
  1. Perjalanan pendakian gunung
  2. Perjalanan menempuh rimba
  3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
  4. Perjalanan penelusuran gua
  5. Perjalanan pelayaran

Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :

1. Perlengkapan dasar meliputi :
  • Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
  • Perlengkapan untuk istirahat
  • Perlengkapan makan dan minum
  • Perlengkapan mandi
  • Perlengkapan pribadi

2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan perjalananan, misalnya
  • Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
  • Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
  • Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
  • Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)

3. Perlengkapan tambahan
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).

Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu. Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana yang perlu dibawa dan tidak.

Apabila perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita.

Source: Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba

Selengkapnya......

Perjalanan / Pendakian Gunung

.
2 komentar

Mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.

Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.

Jenis Perjalanan / Pendakian
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :

1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.

2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.

3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.

Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Rock Climbing; Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
  2. Snow & Ice climbing; Pendakian pada es dan salju.

4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian, juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian, dll.

Klasifikasi Pendakian
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.

Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
  1. Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
  2. Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
  3. Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
  4. Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
  5. Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
  6. Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).

Sistem Pendakian
  1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
  2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.

Persiapan Bagi Seorang Pendaki Gunung
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain:

1. Sifat Mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

2. Pengetahuan dan Keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.

3. Kondisi Fisik yang Memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.

4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.

Source: Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E–EAST2003

Selengkapnya......

Tips-Tips Dalam Memilih Sepatu Untuk Berkegiatan di Alam Terbuka

.
0 komentar

Lagi asik liat-liat produk baru dari portal eiger eh malah nyasar ke halaman tutornya, but it's ok stelah ku baca-baca eh kayaknya asik juga neeh 'post' aku simpen di blogku [bukan maksud tuk meng-copy gt] soalx lumayan juga isi dari penjelasannya "Te O Pe" lah. yo wis jangan banyak ngomong lah kita mulai saja tips2x.

Jadi begini, sebelum kita memutuskan untuk membeli sepatu baru ada baiknya kita memperhatikan tips-tips di bawah ini:
1. Pertimbangkan dengan Jenis Perjalanan yang akan Kita Lakukan
Mulai dengan mencari sepatu boot atau sepatu trekking yang tepat dengan melihat kategori / karakter medan yang paling cocok dengan rencana perjalanan kita. Secara umum sepatu outdoor bisa dibagi dalam 3 kategori dasar, yaitu :

a. Sepatu untuk pendakian ringan – Sepatu ini di desain untuk perjalanan sangat pendek seperti pendakian sehari atau aktivitas semalam saja. Sepatu tersebut menitik beratkan pada tingkat kenyamanan seperti penggunaan bantalan pelindung,dan bahan yang breathable (mempunyai kemampuan bernafas-mengeluarkan uap panas dari dalam sepatu).

b. Sepatu untuk pendakian sedang – Sepatu ini di desain untuk aktivitas pendakian dengan beban pendaki yang ringan sampai cukup. Sepatu ini lebih tangguh dan bisa menyangga / menahan beban yang dipikul dari pada sepatu ringan, sepatu ini cocok untuk perjalanan yang pendek sampai sedang pada medan yang mudah sampai cukup berat.

c. Sepatu untuk pendakian berat / sepatu khusus Mountaineering – Sepatu boot ini didesain untuk di medan berat dan dengan beban pendaki yang sedang sampai berat. Bentuknya tinggi, bisa menyangga kaki, dan bisa melindungi kaki dan pergelangan kaki. Sepatu ini didesain bagi aktivitas berhari-hari / berminggu-minggu. Sepatu ini sangat tangguh dan kaku bahkan beberapa diantaranya cocok untuk penggunaan crampon (untuk sepatu salju atau es), sehingga sepetu ini sangat melindungi dan menunjang untuk aktivitas mountaineering.

2. Pertimbangkan Masalah Bahan
Bahan yang dipergunakan dalam pembuatan sepatu bIoot atau tIrekking akan berpengaruh terhadap berat, kemampuan bernafas / breathability-nya, kekuatannya serta ketahanannya terhadap air. Berdasarkan bahan yang dipakainya, sepatu boot dibagi atas :

a. Sepatu dengan Bahan Nylon Mesh dan Potongan Kulit - Kelebihan sepatu jenis ini yaitu ringan sehingga bisa mengurangi beban, cenderung empuk di kaki, cepat dalam membukanya, harganya relatif lebih murah dan bisa bernafas (breathable), menjadikannya cocok dipakai pada cuaca hangat sampai sedang, cepat kering di kala basah dan cocok untuk perjalanan / pendakian pendek sampai sedang. Tapi mempunyai kelemahan, diantaranya kurang stabil pada medan yang miring, kurang tahan lama serta kebanyakan kurang tahan air dibandingkan sepatu boot dengan bahan full kulit (kecuali yang menggunakan lapisan waterproof).

b. Sepatu Kulit - Sepatu ini benar-benar tahan air, tangguh dan lebih supportive dibanding sepatu campuran bahan kulit dan nylon. Sepatu ini biasanya digunakan untuk perjalanan panjang / lama, beban pendaki berat dan medan pendakian yang sulit / keras, dan paling penting tahan lama. Tapi sepatu boot in tidak se-ringan dan se-breathable campuran kulit / nylon, serta memerlukan waktu untuk membuka dan memasangnya.

c. Sepatu Plastik - Sepatu ini dipergunakan untuk medan es atau salju, dipakai untuk kegiatan pendakian / ekspedisi ke gunung-gunung bersalju atau es. Bentuknya sangat kaku / rigid, sangat layak untuk penggunaan crampon (alas bergerigi yang dipasang di sepatu), terdiri dari dua lapis yaitu lapisan dalam sebagai penghangat dan bagian luar sebagai pelindung,

Seiring perkembangan teknologi, beberapa sepatu boot baik dari bahan campuran kulit / kain atau full kulit sekarang banyak yang tahan terhadap air sehingga kaki tetap kering saat hujan turun, ini terjadi berkat penggunaan / perlakuan lapisan tahan air seperti Gore-tex, Sympatex Dry-tex, Outdry, dll. Perlakuan ini diaplikasikan pada kebanyakan material sepatu boot untuk mempertinggi tingkat ketahanan airnya..

Walau demikian lapisan ini bukan merupakan obat mujarab bagi sepatu boot, karena umurnya tidak tahan lama dan perlakuan ini berpengaruh terhadap harga serta bisa membuat kaki menjadi tidak nyaman jika dipakai di udara panas. Tingkat ketahanan air ini tergantung dari jenis bahan yang digunakan, bahan-bahan pelindungnya, seberapa sering dipakainya dan sebaik apa perawatannya. Jika perawatannya benar maka lapisan tahan airnya bisa bertahan lebih lama dari pada umur sepatu itu sendiri. Oleh sebab itu pastikan selalu mengikuti aturan perawatan yang biasanya terdapat pada setiap kemasan sepatu, sehingga sepatu kita bisa tahan lama dan berfungsi dengan baik.

3. Pertimbangkan Cara Pembuatannya
Secara umum sepatu boot dibuat dengan cara mekanisasi / pabrikasi dan manual / hand made. Teknik pembuatannya dilakukan dengan cara dijahit dan direkatkan (di-lem atau di-press). Sepatu yang dibuat dengan teknik penjahitan performanya tangguh dan bisa diandalkan, jika telah usang / rusak solnya bisa diganti. Dengan teknik ini sepatu yang dihasilkan akan berbeda dalam hal kekuatan dan kekakuan masing-masing produsen mempunyai kiat-kiat khusus, seperti gaya Norwegia, gaya Italy, dsb. Sedangkan sepatu yang dibuat dengan proses perekatan / pengeleman, biasanya pembuatannya lebih cepat, hasilnya lebih tangguh, umumnya lebih murah.

4. Pertimbangan Saat Mencobanya
Setelah kita memilih berbagai ukuran dan modelnya, cara terbaik untuk memutuskan mana yang akan kita pilih adalah dengan mencoba sepatu tersebut. Saat mencoba sepatu, jangan mengandalkan ukuran sol sepatu yang umum atau berpatokan pada nomor yang biasa kita pakai. Sebab sepatu no. 8 buatan pabrik / merk yang satu mungkin berbeda dan memang biasanya berbeda dibandingkan buatan pabrik/merk yang lain. Jadi yang terbaik adalah mencobanya.

Source: Rudy Firdaus - Eiger Adventure Training & Education, etc.

Selengkapnya......

Hypothermia ....

.
0 komentar

BISA membunuh bagi yg belum tahu - Ini kesalahan besar!
Apakah Kamu siap?

Setiap tahun anak pendaki Indonesia meninggal karena mereka belum tahu dan belum siap mencegah Hypothermia.

Apakah Hypothermia?
Biasanya suhu tubuh Kita normal dan tetap pada suhu + 37,5 derajat Celsius. Kalau panas, tubuh kita akan mengeluarkan keringat untuk mengurangi panas tersebut, dan kalau dingin kita menggigil untuk memanaskan tubuh. Hypothermia adalah penurunan suhu tubuh (kedingingan) dari suhu normal, dan apabila kalau tidak cepat mengatasi situasi tersebut di gunung bisa berakibat fatal. Percayalah...! setiap tahun di Indonesia, anak pendaki meninggal karena hypothermia,.... jangan sampai Kamu atau teman lain menjadi korban dan kemudian tewas. Sebagai pendaki, Anda harus paham tentang hypothermia.

Bagaimana Mencegah?
Memakai pakaian yang berlapis untuk mengontrol suhu tanpa banyak mengeluarkan keringat, jangan duduk/berbaring langsung diatas tanah/batu, dan gunakan topi bulu domba kalau dingin, karena kebanyakan panas tubuh hilang dari kepala.

Saat mendaki atau berjalan kembali kita bisa mengurangi lapisan pakaian sehingga tidak mengeluarkan banyak keringat (jika pakaian jadi basah... panas tubuh akan hilang lebih cepat). Saat berhenti, sebaiknya kembali menambah pakaian (berlapis) SEBELUM tubuh mulai menjadi dingin atau suhu tubuh menurun. (jangan tunggu tubuh menjadi dingin atau suhu tubuh menurun, karena badannya harus membutuhkan energi untuk mengembalikan panas tubuh).

Hindarkan kulit dari air.
Makan makanan tambahan sesering mungkin yang berkalori tinggi, misalnya gula-gula, coklat, dll. Siap membawa cukup pakaian gunung, peralatan, tenda dan makanan. Celana "jeans" (seperti Levi’s) tidak cocok untuk mendaki, karena jeans yang basah akan lebih berat dan lama keringnya. Bawahlah termos untuk menyimpan air panas agar pada saat perjalanan atau beristirahat kita tidak repot lagi untuk menyiapkannya.

Melakukan paking ransel sehingga kalau hujan pakaian, SB dan alat penting tetap tidak menjadi basah. (Misalnya memakai polybag2 dalam ransel). Simpan bahan bakar kompor dalam botol yg kuat dan aman agar tidak terjadi bocor pada saat melakukan perjalanan di gunung. Kalau memakai botol Aqua saja, dua botol kecil lebih terjamin dibanding satu botol besar.

Kalau rencananya pulang pergi dalam waktu satu hari... membawah cukup persiapan untuk bermalam dengan aman. (misalnya 'flysheet' tenda, survival bag, makanan darurat). Siapa tahu akan terjadi sesuatu saat perjalanan yang mengharuskan kita untuk bermalam atau membutuhkan perlindungan.

Dingin, Hujan dan Angin = Berbahaya (Sangat mudah terserang Hypothermia)
... Siap untuk mencegah Hypothermia dan cepat mengatasi sebelum terlambat।

Tabel tahapan sifat hypothermia klik disini untuk melihat.

Tahapan Hypothermia lebih cepat menjadi parah bagi anak-anak, orang tua, yang sakit dan yang kurus.

Harus berani menghentikan kegiatan demi mengatasi hypothermia daripada melanjutkan perjalanan. Hypothermia bisa dan akan membunuh bagi yang tidak paham dan siap. Kalau Anda pendaki, Anda tidak ada alasan untuk menjadikan korban menderita hypothermia berat yang dapat mengakibatkan kematian (tewas). Situasi apapun yg terjadi di gunung Anda harus bisa menjaga panas tubuh. Paham dan siapkanlah !
"Saya kuat dan tidak takut dingin !" Maaf, saat ini Kamu bodoh!

Kalau Anda pernah merasa dingin atau pernah menggigil di gunung, berarti suhu tubuh Anda sudah mulai menurun dari suhu normal. ... Kalau terus di situasi tersebut tanpa intervensi atau perubahan situasi, suhu tubuh akan terus menurun lagi sampai kamu tidak bisa membantu diri sendiri. Semangat saja tidak cukup dan bisa berbahaya !!!.. Pengatahuan dan persiapan lebih penting kalau Kamu mau menjadi seorang yang ahli di gunung dari pada menjadi korban (orang bodoh).

Paham : Semakin lama menunggu sebelum menaikkan suhu tubuh yang mulai menurun maka akan semakin susah dan berbahaya.

Susah untuk menyelamatkan korban hypothermia berat.... lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Selengkapnya......

Tips Mendaki Gunung

.
0 komentar

Pilih Barang Yang Dapat Berfungsi Ganda
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda , tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa. Contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di keril.

Matras
Sebisa mungkin matras disimpan didalam keril jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.

Kantung Plastik
Selalu siapkan kantung plastik didalam ransel anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya.

Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam keril anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian
Jika anda meragukan keril yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik, gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab.
Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih

Menyimpan Makanan
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Keril
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat keril digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Selengkapnya......

Checklist Alat dan Perlengkapan Mendaki Gunung

.
0 komentar

Di bawah kami jelaskan beberapa alat/perlengkapan standar yang harus dibawa ketika kita akan melakukan pendakian gunung.

NO

JENIS BARANG

TYPE

1

TAS

BACKPACK / RANSEL

2

ALAS KAKI

SEPATU BOOTS

KAUS KAKI

SANDAL GUNUNG

3

PAKAIAN

JACKET KEMEJA/KAUS

CELANA LAPANGAN

BAJU DALAM

4

PENUTUP KEPALA

TOPI LAPANGAN

5

ALAT MANDI

HANDUK

SIKAT GIGI

6

ALAT MASAK

KOMPOR GAS + GAS REFILL PANCI / NESTING

SENDOK GARPU

7

MAKANAN

MAKANAN CEPAT SAJI

BISKUIT

COKLAT/PERMEN

8

TEMPAT AIR

TERMOS AIR

JERIGEN 2 LITER

9

PERLENGKAPAN TIDUR

SLEEPING BAG

SARUNG

10

PISAU

PISAU SWISS SERBAGUNA

GOLOK TEBAS

11

LAMPU

SENTER

BOHLAM CADANGAN

BATERAI

LENTERA

12

JAS HUJAN

PONCO

STELAN JACKET & CELANA

13

NAVIGASI & PENUNJUK WAKTU

PETA KONTUR

KOMPAS

ALTIMETER

JAM TANGAN TAHAN AIR

14

P3K

FIRST AID KIT

SNAKE BITE KIT

15

TENDA

TENDA DOME

FLY SHEET



Selengkapnya......

About

. Rabu, 15 Oktober 2008
1 komentar

S M A Y A M T A L A
[SMK YAMSIK PECINTA ALAM]

SMAYAMTALA [SMK YAMSIK PECINTA ALAM]

SMAYAMTALA bukanlah klub pendaki gunung bukan pula team pemanjat tebing, tetapi mereka adalah manusia-manusia yang sadar untuk mencintai alam sebagai anugerah Yang Maha Kuasa. Dan kami pun bukan orang-orang yang berani mati, tetapi kami adalah manusia yang berani hidup.

Kita mengingat bahwa alam dan manusia adalah bagian dari ciptaan Tuhan. Keduanya diciptakan untuk saling mengenal dan saling mengisi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Manusia dilahirkan di bumi ini bukan untuk menentang alam, melainkan untuk melihat, merasakan dan menikmati keagungan ciptaan-Nya.

SMAYAMTALA selalu memberikan bekal kepada anggotanya dengan pengetahuan dan ketrampilan kepencinta alaman, agar dapat menjadi manusia yang berani hidup. Artinya berani dan dapat memecahkan kesulitan yang dihadapinya. Berani hidup untuk dapat menyelaraskan kehidupannya sendiri.



=============================================
SMAYAMTALA [SMK YAMSIK PECINTA ALAM]
Klub Pecinta Lingkungan dan Penggiat Olahraga Alam Bebas
Bascamp: Jalan Ir. Haji Juanda No 93 Kuningan Jabar 45511
Telepon/Fax. (0232) 871314 Hp. 085224065357 - 081320479431
E-Mail: smayamtala_kng@yahoo.co.id

Selengkapnya......